The Planer
bagian 8
fudin7 Nov 2026, 11.52 WIB 29 kali dibaca

Bab 8: Jaring yang Mulai Mengetat
Lantai dua puluh lima Gedung Megastage Indonesia di kawasan Sudirman selalu terasa seperti dunia yang berbeda. Di sini, tidak ada debu jalanan atau bau asap knalpot yang melekat di pakaian. Udara dingin dari AC sentral berembus tanpa suara, membawa aroma parfum maskulin mahal dan wangi lilin aromaterapi premium.
Sena Wijaya duduk di balik meja jati besarnya, menatap pantulan dirinya di dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan garis cakrawala Jakarta yang berkabut polusi. Kemeja flanel merahnya yang biasa kini telah berganti dengan kemeja katun Mesir putih bersih yang dipadukan dengan celana bahan hitam berpotongan pas. Di pergelangan tangan kirinya, melingkar sebuah jam tangan kronograf mewah pemberian ayahnya sebagai hadiah selamat datang.
Ia terlihat mapan, berkuasa, dan terhormat. Namun, di dalam dadanya, ada rasa sesak yang tak bisa diusir oleh kemewahan itu.
Tok, tok.
Pintu ruangan terbuka tanpa menunggu izinnya. Surya Wijaya melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap, diikuti oleh dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian safari hitam tim keamanan internal Megastage.
"Bagaimana hari pertamamu sebagai Direktur Pemasaran, Sena?" Surya tersenyum lebar, berjalan mendekati meja anaknya lalu menepuk pundak Sena dengan akrab. "Papa lihat laporan draf strategi untuk Megastage Fest Evolution yang kamu buat. Sangat agresif. Membeli hak siar digital eksklusif dari semua stasiun radio anak muda adalah langkah yang genius. Kamu benar-benar punya darah Wijaya di tubuhmu."
Sena memaksakan sebuah senyuman tipis, mengangguk sopan. "Terima kasih, Pa. Gue cuma mastiin kalau festival kita gak akan menyisakan ruang sedikit pun bagi kompetitor di Jakarta."
"Bagus," mata Surya menyipit, senyumnya berubah menjadi tatapan dingin yang penuh intimidasi. Ia memberi isyarat kepada salah satu pria bersafari di belakangnya untuk meletakkan sebuah map kulit tipis di atas meja Sena. "Tapi berbicara tentang kompetitor... tim keamanan Papa baru saja menemukan riak kecil di bawah tanah."
Sena menahan napas sejenak, namun matanya tetap menatap ayahnya tanpa berkedip. "Riak apa, Pa?"
"Anak-anak ingusan dari mantan EO-mu itu," Surya terkekeh merendahkan, mengetuk permukaan map kulit dengan ujung jari telunjuknya yang dihiasi cincin batu mulia. "Bumi dan si bendahara perempuan itu. Mereka ternyata belum menyerah. Intelijen lapangan Papa dapet laporan kalau kemarin si Bumi mendatangi gudang tua milik bajingan tua bernama Koes di Jagakarsa. Mereka juga mulai menyebarkan selebaran fisik berupa zine dengan kode QR rahasia di daerah Blok M."
Jantung Sena berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan keras. Namun, wajahnya tetap menunjukkan ekspresi datar yang dingin sebuah topeng yang sengaja ia latih sejak melangkah masuk ke gedung ini.
"Mereka mau bikin panggung tandingan, Pa," kata Sena, nadanya sengaja dibuat terdengar meremehkan. "Namanya Tanpa Batas Festival. Konsepnya gerilya, pakai lahan kosong di Kemang. Cuma acara mikro skala komunitas."
Surya menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terkejut sekaligus puas melihat betapa cepat anaknya mendapatkan informasi. "Kamu sudah tahu?"
"Tentu saja, Pa. Gue yang memegang seluruh database komunikasi mereka sebelumnya," Sena bersandar di kursi kulitnya, memutar pulpen mahalnya di antara jemari. "Saran gue, Papa gak usah buang-buang energi pakai tim hukum atau preman buat ngebubarin acara mereka sekarang. Kalau kita serang mereka secara fisik, komunitas indie justru bakal bersatu dan bikin narasi kalau Megastage itu penindas. Itu bakal ngerusak imej Megastage Fest Evolution yang lagi kita bangun."
Surya menyipitkan mata, mengamati anaknya dengan saksama. "Lalu, apa rencanamu, Sena?"
"Biarkan mereka membangun panggungnya sampai H-1," Sena menyeringai, sebuah seringai dingin yang ia pinjam dari cara ayahnya berbisnis. "Di malam sebelum acara dimulai, gue sendiri yang bakal neken pemilik lahan di Kemang lewat jalur dinas tata kota dan kepolisian untuk mencabut izin keramaian atas alasan 'keamanan wilayah'. Mereka bakal hancur di titik tertinggi mereka, Pa. Tanpa kita harus mengotori tangan kita di depan publik. Duit dua puluh satu juta mereka bakal hangus seketika untuk bayar logistik yang sia-sia."
Surya diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Ia menepuk pundak Sena dengan sangat keras hingga kursi anaknya sedikit bergeser.
"Genius! Benar-benar kejam dan terukur! Itu baru anak Papa!" Surya melangkah menuju pintu keluar dengan wajah penuh kepuasan. "Urus mereka sampai tuntas, Sena. Jangan biarkan ada satu pun kecoak bawah tanah yang berani mengotori karpet merah Megastage."
Setelah pintu ruangan tertutup rapat dan langkah kaki ayahnya menjauh, ketegangan di bahu Sena langsung runtuh. Pulpen di tangannya jatuh ke atas meja, dan telapak tangannya mendadak basah oleh keringat dingin.
Ia segera menarik laci meja kerjanya yang terkunci, mengambil sebuah ponsel android murah tanpa kartu SIM yang ia beli di ITC semalam, lalu menyalakannya menggunakan koneksi hotspot privat dari perangkat asing.
Sena membuka aplikasi Signal, melihat pesan yang ia kirimkan ke nomor Bumi beberapa jam lalu. Pesan itu hanya berstatus centang satu—Bumi tampaknya benar-benar telah membuang nomor lama atau mematikan ponselnya demi keamanan operasi gerilya mereka.
Sena menatap layar ponsel murah itu dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam.
Gue terpaksa menuntun bokap gue ke arah yang salah, Bum, batin Sena perih, mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Gue harus bikin dia mikir kalau gue ada di pihaknya, biar dia gak menurunkan tim preman yang bisa mencelakai lu sama Mentari sekarang. Tapi waktu gue tinggal sedikit. Lu harus bergerak lebih cepat dari jaring yang lagi disiapin bokap gue, Bumi... sebelum gue terpaksa benar-benar menghancurkan kalian.
Sena menghapus seluruh jejak chat di aplikasi Signal-nya, mencabut baterai ponsel murah tersebut, lalu menyembunyikannya kembali ke bagian terdalam lacinya, bersiap menghadapi permainan dua kaki yang paling berbahaya dalam hidupnya.







