The Planer

bagian 7

fudin7 Nov 2026, 11.50 WIB 28 kali dibaca

The Planer

Bab 7: Operasi Senyap Gerilya

Di bawah temaram lampu ruko yang mulai berkedip-kedip kehabisan daya, kalkulator abu-abu milik Mentari kembali berbunyi cetak-cetek dengan ritme yang rapat. Namun, kali ini tidak ada lagi ratapan atas angka minus. Di sekelilingnya, lantai semen ruko tertutup oleh lembaran peta fisik Jakarta Selatan dan coretan tangan Bumi mengenai rute logistik rahasia.

"Dua puluh satu juta empat ratus lima puluh ribu rupiah," Mentari mengetuk layar kalkulatornya, menatap Bumi dan Rara yang duduk bersila di hadapannya. "Kalau kita pakai jalur konvensional, duit segini cuma habis buat bayar uang rokok ormas dan sewa genset setengah hari di Blok M. Tapi kalau kita pakai skenario gerilya Rara..."

Mentari menggeser sebuah catatan baru. "Lima juta buat sewa lahan kosong milik kolektif warga di Kemang selama tiga hari. Pemiliknya mantan anak punk yang sekarang jadi ketua RT setempat, dia gak butuh surat izin birokrasi berbelit, cuma butuh jaminan kita gak bikin rusuh kampung. Delapan juta buat sound system rakitan anak-anak elektro tebu dari Depok—dayanya emang gak segede punya Megastage, tapi distorsinya dijamin bikin kuping tetangga sebelah merinding. Sisa delapan juta? Kita kunci buat logistik kru lapangan, bensin, dan konsumsi."

Bumi tersenyum lebar, jenis senyuman berbahaya yang sudah lama hilang dari wajahnya. "Dan buat promosi, kita gak akan pakai baliho mahal atau ads media sosial yang jalurnya bisa diendus sama tim intelijen digital Megastage. Kita pakai metode word-of-mouth dan zine fisik."

Bumi menoleh ke arah Rara. "Ra, lu bisa urus jalur komunikasinya?"

Rara mengangguk mantap, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. "Aku udah bikin grup chat terenkripsi pakai aplikasi Signal untuk semua perwakilan kolektif. Undangan festival ini gak akan disebar secara terbuka. Kita pakai sistem kode QR rahasia yang cuma bisa didapat dari tangan ke tangan lewat zine fisik yang diselipin di toko-toko kaset indie blok M, pasar Santa, sama tongkrongan anak kampus."

"Nama acaranya apa, Bum? Kita gak bisa pakai nama 'Horizon Underground Fest' lagi," sela Mentari. "Sena tahu nama itu. Kalau tim hukum Megastage tahu, mereka bisa langsung neken pemilik lahan di Kemang pakai ancaman pasal ketertiban umum sebelum panggung kita sempat berdiri."

Bumi terdiam sejenak. Ia memandangi plang papan kayu Horizon yang tergeletak miring di pojok ruangan. Ingatannya kembali pada kalimat Sena yang merendahkan mimpi mereka kemarin.

"Tanpa Batas," ucap Bumi tegas. "Kita namain gerakan ini Tanpa Batas Festival. Karena langit gak punya batas, dan tanah tempat kita berpijak malam ini gak punya sekat korporasi."

Keesokan harinya, operasi senyap dimulai.

Bumi meminjam motor matic tua milik paman Mentari yang knalpotnya berasap tipis. Ia membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah gudang tua di kawasan Jagakarsa, tempat berkumpulnya vendor audio rakitan lokal yang masuk dalam daftar hitam Megastage karena menolak memotong harga demi kontrak monopoli.

Di dalam gudang yang pengap oleh bau solder dan timah, seorang pria paruh baya berambut gondrong jagat bernama Cak Koes sedang mengelap speaker bass berukuran raksasa.

"Jadi, kamu anak muda yang mau nantang Surya Wijaya?" Cak Koes terkekeh setelah mendengar cerita Bumi, menyodorkan segelas kopi instan hangat ke tangan anak muda itu.

"Kami bukan mau nantang, Cak. Kami cuma mau bikin ruang yang jujur buat musik kami," jawab Bumi tulus.

Cak Koes menatap mata Bumi selama beberapa detik, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah keras kepala yang murni. Pria paruh baya itu menepuk dinding speaker raksasanya hingga menimbulkan bunyi dentum yang berat.

"Megastage bulan lalu motong sewa alat dari paguyuban kami secara sepihak. Mereka pikir kami butuh mereka buat makan," kata Cak Koes dengan nada geram yang tertahan. "Bawa speaker-speaker ini ke Kemang, Le. Nanti malam anak-anakku yang bakal rakit langsung di lokasi. Lu gak usah bayar DP delapan juta ke gue sekarang. Simpan duit lu buat beli nasi bungkus kru. Lu bayar gue setelah tiket lu laku. Kalau tekor? Anggap ini sumbangan gue buat bayar rasa sakit hati gue ke Surya Wijaya."

Bumi tertegun, rasa haru mendadak membuncah di dadanya. Kekuatan akar rumput yang diceritakan Rara ternyata bukan sekadar teori di atas kertas Excel; itu adalah nyawa nyata yang bergerak di bawah tanah Jakarta.

Sementara Bumi bergerak di lapangan, Rara dan Mentari menyulap lantai dua ruko menjadi ruang percetakan darurat. Menggunakan mesin cetak stensil tua sewaan, mereka mencetak ratusan lembar zine mini berlembar-lembar hitam putih yang berisi manifesto Tanpa Batas Festival dan sebuah kode QR kecil di halaman paling belakang.

"Ra," Mentari berbisik sembari merapikan tumpukan kertas yang masih basah oleh tinta stensil. "Lu udah cek aktivitas Sena hari ini?"

Gerakan tangan Rara di atas keyboard mendadak melambat. Ia membuka sebuah tab sekunder di laptopnya, memperlihatkan rilis pers digital dari akun resmi Megastage Indonesia yang baru saja tayang satu jam lalu.

Di layar komputer, tampak foto Sena Wijaya dengan setelan jas hitam mewah, berdiri di samping ayahnya, Surya Wijaya. Di bawah foto tersebut, tertera tajuk berita utama: "Megastage Fest Evolution Resmi Menggandeng Sponsor Bank Kakap, Siap Digelar di Senayan Bersamaan dengan Jadwal Konser Terbesar Akhir Bulan."

"Kak Sena udah resmi jadi Direktur Pemasaran di sana, Kak Tar," kata Rara pelan, ada nada sedih yang tersisa di suaranya. "Dia... dia bener-bener udah ada di pihak mereka sekarang."

Mentari menatap foto Sena di layar dengan pandangan yang dingin. Rasa bersalah atas runtuhnya persahabatan mereka kini telah sepenuhnya mengkristal menjadi tekad untuk menang.

"Bagus," ucap Mentari pelan, suaranya terdengar setajam pisau akuntansi. "Biarkan dia bersenang-senang di menara kacanya yang megah untuk beberapa hari ini. Dia gak tahu... kalau tanah tempat menaranya berdiri, perlahan-lahan lagi kita gembos dari bawah."

Tepat saat itu, ponsel Bumi bergetar di atas meja ruko. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal, namun isinya membuat Mentari dan Rara langsung menahan napas:

Gue denger lu lagi nyari lahan di Kemang. Hati-hati, intelijen Megastage udah mulai nanya-nanya ke beberapa vendor sound system di Jakarta Barat pagi ini. Gerak lu dipantau.

Bumi yang baru saja masuk kembali ke dalam ruko membaca pesan itu, lalu menatap Mentari dan Rara. Perang dingin telah dimulai, dan Horizon baru saja melangkah masuk ke dalam sarang serigala tanpa jalan untuk kembali.

Bagikan berita ini WhatsAppFacebookX (Twitter)

Belanja di KOJULIO

Lihat semua

Berita terkait