The Planer

bagian 6

fudin7 Nov 2026, 11.49 WIB 29 kali dibaca

The Planer

Bab 6: Sisa-Sisa yang Bertahan

Senin pagi datang tanpa permisi, membawa atmosfer yang jauh lebih dingin ke dalam ruko Horizon, meskipun matahari Jakarta di luar sana sedang terik-teriknya.

Di lantai dua, ruangan itu tampak seperti medan perang yang ditinggalkan. Puing-puing kursi plastik yang dihancurkan Bumi kemarin masih berserakan di pojok ruangan. Map plastik dari perusahaan rokok milik Surya Wijaya sudah robek menjadi dua, tergeletak mengenaskan di dekat tempat sampah. Tidak ada aroma kopi hitam pagi ini; yang ada hanyalah bau apek dari ruangan yang jendelanya sengaja dibiarkan tertutup rapat.

Mentari duduk di mejanya, menatap kosong ke arah layar laptop. Jari-jarinya tidak lagi menari di atas keyboard. Kalkulator abu-abu miliknya tergeletak diam di samping cangkir kosong. Matanya bengkak dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas bahwa ia tidak memejamkan mata semenit pun semalam.

Sementara Bumi, ia duduk di lantai, bersandar pada papan tulis putih. Kedua lututnya ditekuk, dan wajahnya disembunyikan di antara kedua lengan. Sejak Sena melangkah keluar dari ruko ini dua puluh empat jam yang lalu, Bumi belum mengucapkan sepatah kata pun. Ia seperti patung bernyawa yang kehilangan seluruh energinya.

Pintu lantai bawah berderit pelan. Langkah kaki yang sangat ringan terdengar menaiki tangga. Rara muncul sambil membawa sebuah kantung kresek putih besar. Gadis magang itu menatap sekeliling ruangan dengan ragu, lalu berjalan mendekati meja Mentari.

"Kak Tar... ini ada bubur ayam," cicit Rara pelan, meletakkan kantung belanjaannya di dekat laptop Mentari. "Tadi Rara beli di depan gang. Kak Tar belum makan dari kemarin, kan?"

Mentari hanya menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman paksa yang terlihat sangat getir. "Makasih ya, Ra. Taruh di situ aja dulu. Gue belum lapar."

Rara menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Bumi yang masih bergeming di lantai. Rasa bersalah mendadak merayapi dada gadis kecil itu. Ia merasa, andai saja semalam ia tidak membongkar data Wi-Fi itu, mungkin Horizon tidak akan hancur berantakan seperti ini sekarang.

Rara berjalan mendekati Bumi. Dengan perlahan, ia ikut duduk di atas lantai semen yang dingin, berjarak satu meter di samping pemuda itu.

"Kak Bumi..." panggil Rara, suaranya sangat lirih. "Maafin Rara ya. Gara-gara Rara nyari tahu soal data itu, Kak Sena jadi..."

Bumi perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya tampak sangat tirus, dengan janggut tipis yang mulai tumbuh liar di dagunya. Matanya yang biasa memancarkan binar penuh ambisi, kini meredup, menyisakan kekosongan yang amat dalam.

"Bukan salah lu, Ra," suara Bumi terdengar serak, hampir habis. Ia tersenyum pahit, menatap langit-langit ruko yang berjamur. "Justru gue harusnya terima kasih sama lu. Kalau lu gak bongkar semalam, mungkin hari ini gue udah jadi pengkhianat terbesar buat komunitas gue sendiri. Gue hampir aja jual diri ke bokapnya Sena."

Bumi mengembuskan napas berat, lalu menunduk lagi, memandangi ujung sepatu botnya yang kusam. "Tapi Sena bener, Ra. Tar. Kita ini cuma remahan rengginang yang mau nantang raksasa. Megastage punya duit, punya hukum, punya intel, bahkan punya anak sahabat gue sendiri buat ngebongkar kita. Gimana kita bisa menang?"

Mentari yang mendengar itu langsung menoleh tajam. Rasa sedih di hatinya mendadak berganti menjadi sengatan emosi. Ia berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Bumi, lalu berdiri tepat di depan sahabatnya itu.

"Gue gak salah denger, Bum?" suara Mentari meninggi. "Bumi yang gue kenal itu orang paling keras kepala se-kampus. Orang yang tetep nekat lanjutin konser di parkiran walau badai petir dan penonton sisa tiga puluh orang. Sekarang, baru diginiin sama Sena, lu udah mau tiarap?"

"Ini beda, Mentari!" Bumi mendongak, suaranya ikut meninggi, dipenuhi rasa frustrasi yang memuncak. "Ini bukan soal badai petir! Ini soal sistem! Lu lihat sendiri kan, Baskara yang bandnya udah punya basis massa segede itu aja bisa ditekuk lututnya dalam semalam pakai ancaman hukum! Kita punya apa, Tar?! Duit di rekening cuma dua puluh satu juta! Kita gak punya band utama! Dan sebentar lagi kita bakal diusir dari ruko ini karena nunggak sewa!"

Bumi memukul lantai semen dengan tinjunya. "Horizon udah mati, Tar. Sena udah ngebunuh EO ini."

Di tengah keputusasaan yang mencekik itu, Rara tiba-tiba membuka ranselnya. Ia mengeluarkan laptop tuanya yang dipenuhi stiker punk, lalu membukanya di atas lantai, tepat di depan Bumi dan Mentari.

"Horizon belum mati, Kak," kata Rara, nadanya mendadak berubah menjadi sangat mantap—sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan sebagai anak magang yang pemalu. "Kak Sena emang bawa kabur proposal kita, dan dia emang tahu semua daftar band yang mau kita undang. Tapi... dia gak tahu soal ini."

Rara mengetuk touchpad-nya, menampilkan sebuah dokumen spreadsheet rahasia yang dilindungi kata sandi. Di layar itu, tertera ratusan nama, nomor telepon, dan nama akun Instagram.

"Ini apa, Ra?" Mentari ikut berlutut di lantai, mengamati barisan data tersebut.

"Ini database kolektif bawah tanah yang aku kumpulin secara mandiri selama dua tahun terakhir, Kak," Rara membenarkan letak kacamatanya. "Bukan cuma di Jakarta, tapi ada dari Bandung, Jogja, Surabaya, sampai Malang. Ini adalah vendor panggung independen, pembuat sound system rakitan lokal, kolektif mahasiswa yang punya lahan sendiri, dan band-band perlawanan yang gak pernah mau masuk ke radar agensi besar."

Rara menatap Bumi dengan mata yang berbinar terang. "Kak Sena pikir dia udah ngunci seluruh industri hiburan di Jakarta lewat Megastage. Tapi dia lupa, kekuatan musik indie itu bukan ada di menara kaca, tapi ada di bawah tanah. Mereka punya duit, tapi kita punya jaringan akar rumput (grassroot). Kalau mereka menutup pintu Senayan buat kita, kenapa kita gak bangun panggung kita sendiri di tempat yang gak bisa mereka sentuh?"

Bumi menatap barisan data di laptop Rara. Perlahan, sesuatu yang tadinya mati di dalam dadanya seperti tersengat aliran listrik. Kata-kata Rara bagai sebuah tamparan yang membangunkan jiwanya dari tidur panjang.

Ia menatap Mentari, yang ternyata juga sedang menatapnya dengan senyuman yang mulai mengembang di wajahnya yang lelah.

"Vendor panggung rakitan... lahan kolektif..." Bumi bergumam, jemarinya mulai menyentuh layar laptop Rara, menyusuri nama-nama di sana. Otaknya yang jenius dalam merancang konsep acara mulai berputar kembali dengan kecepatan penuh.

"Tar," Bumi memanggil Mentari, suaranya tidak lagi parau, melainkan mulai diisi oleh ambisi yang kembali berkobar. "Uang dua puluh satu juta kita... kalau dipakai buat sewa panggung Megastage emang gak cukup. Tapi kalau buat beli bensin, patungan sewa lahan warga, sama beli nasi bungkus buat anak-anak kolektif... cukup banget, kan?"

Mentari tertawa kecil, air mata sisa kesedihannya ia usap dengan kasar. Ia mengambil kalkulator abu-abunya dari meja, lalu duduk bersila di lantai bersama Bumi dan Rara.

"Gue bakal hitung ulang anggarannya sampai ke pecahan rupiah terkecil, Bum," kata Mentari, matanya menyorotkan kepatuhan total pada perjuangan baru mereka. "Sena dan bokapnya mau perang, kan? Mari kita kasih mereka perang yang gak bakal pernah bisa mereka lupakan."

Di atas lantai ruko yang berdebu, di antara puing-puing pengkhianatan, Horizon Event tidak membubarkan diri. Mereka justru baru saja merapatkan barisan, siap meluncurkan perang gerilya dari bawah tanah Jakarta.

Bagikan berita ini WhatsAppFacebookX (Twitter)

Belanja di KOJULIO

Lihat semua

Berita terkait