The Planer

bagian 10

fudin7 Nov 2026, 11.54 WIB 30 kali dibaca

The Planer

Bab 10: Malam Sebelum Badai

Jumat malam, H-1 sebelum takdir kedua panggung ditentukan.

Di dalam kontainer MCR (Master Control Room) darurat di lahan kosong Kemang, udaranya pengap dan berbau debu kayu. Bumi berdiri di belakang Rara, menatap layar monitor yang menampilkan visual panggung utama melalui kamera digital sewaan yang terpasang di menara scaffolding. Di atas panggung palet kayu yang kini sudah berdiri kokoh, band post-punk lokal asal Bandung sedang melakukan soundcheck. Dentum bassnya yang berat dan konstan membuat dinding-dinding kontainer ikut bergetar pelan.

"Jalur frekuensi audio aman, Ra?" tanya Bumi, menepuk pundak Rara yang masih fokus menatap barisan gelombang suara di layarnya.

"Aman, Kak. Cak Koes bener-bener jenius. Kabel tanah rakitannya bikin noise hambatannya hampir nol," jawab Rara tanpa menoleh. "Tapi, Kak... ada sesuatu yang masuk ke server Signal kita."

Rara mengetuk touchpad-nya, membuka sebuah jendela obrolan terenkripsi dari nomor anonim yang kemarin memberikan peringatan. Sebuah pesan baru muncul di sana, dikirim tepat lima menit yang lalu:

Surat pencabutan izin keramaian atas nama Polda Metro Jaya untuk lahan Kemang sudah ditandatangani satu jam lalu atas desakan dinas tata kota. Besok jam sepuluh pagi, tim penertib gabungan bakal segel lokasi lu. Pindahkan panggungnya sekarang atau kalian semua habis.

Bumi tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan. Surat itu adalah lonceng kematian yang nyata bagi Tanpa Batas Festival. Duit dua puluh satu juta mereka sudah habis terbakar menjadi tiang besi, sewa lahan, dan logistik kru yang tak mungkin bisa ditarik kembali.

"Kak... gimana ini?" Rara mendongak, matanya yang besar di balik kacamata minus menampilkan ketakutan yang mendalam. "Kalau besok pagi disegal, kita gak punya tempat lagi."

Tepat saat itu, pintu kontainer terbuka dengan sentakan keras. Mentari melangkah masuk dengan wajah pucat pasi. Di tangannya, ia memegang selembar kertas yang baru saja diantarkan oleh seorang kurir motor ke depan gerbang pagar seng.

"Bum..." suara Mentari bergetar, menyerahkan kertas itu ke tangan Bumi. "Surat resmi dari dinas tata kota. Lahan ini dinyatakan sebagai zona hijau aktif yang gak boleh dipakai buat kegiatan keramaian massa. Besok pagi mereka mau pasang garis segel."

Bumi menerima kertas itu dengan tangan yang gemetar menahan amarah. Di pojok bawah dokumen, tertera cap resmi kedinasan, namun ada satu hal yang membuat mata Bumi menyipit tajam—sebuah lampiran nota memo internal agensi yang tidak sengaja ikut terlipat di dalamnya, berlogo Megastage Indonesia.

"Sena..." bisik Bumi, giginya mengatup rapat hingga rahangnya mengeras. "Ini bener-bener cara lu buat ngebunuh kita, Sen?"

Sementara itu, di lantai dua puluh lima Gedung Megastage, suasana sangat sunyi. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Seluruh karyawan sudah pulang, menyisakan Sena sendirian di dalam ruang kerjanya yang luas.

Sena berdiri menghadap dinding kaca, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkerlip seperti taburan permata di atas kain hitam. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah flashdisk merah—alat yang sama yang ia gunakan untuk menyalin data Horizon seminggu lalu. Namun kali ini, isinya sama sekali berbeda.

Flashdisk itu berisi file rekaman audio digital rahasia yang ia rekam secara diam-diam saat ayahnya, Surya Wijaya, melakukan transaksi suap dengan manajer The Midnight Echo dan oknum pejabat dinas tata kota untuk menyegel lahan Kemang.

Sena berjalan mendekati meja kerjanya. Dengan tangan yang sedikit basah oleh keringat dingin, ia menancapkan flashdisk tersebut ke port komputer utamanya yang terhubung langsung dengan sistem jaringan pusat data Megastage Fest Evolution.

Jari-jarinya menari di atas keyboard, mengeksekusi sebuah perintah makro bypass yang telah ia pelajari secara rahasia dari buku catatan lama milik Rara yang tertinggal di ruko dulu. Sena memasukkan rekaman audio tersebut ke dalam antrean sistem visual otomatis (cue sheet) utama panggung Senayan, menguncinya di bawah jalur enkripsi luar yang hanya bisa diakses menggunakan password pribadinya.

"Bum, Tar, Ra..." Sena berbisik pada kesunyian malam, matanya berkaca-kaca menatap baris kode perintah yang siap dieksekusi besok malam. "Gue terpaksa neken dinas tata kota buat ngeluarin surat segel itu hari ini, biar bokap gue percaya kalau gue bener-bener berpihak sama dia. Gue terpaksa mengorbankan panggung Kemang kalian... karena pertunjukan yang sebenarnya bukan ada di sana."

Sena mencabut flashdisk merahnya, memasukkannya ke dalam saku dalam kemeja putihnya.

"Besok malam, di depan sepuluh ribu orang di Senayan, saat layar LED raksasa Megastage menyala... seluruh borok bokap gue bakal berputar secara live ke seluruh Indonesia," Sena menyeringai tipis, sebuah air mata kemarahan jatuh melewati pipinya. "Bokap gue mikir dia udah menang dengan menyegel lahan kalian. Dia gak tahu, kalau besok malam, dia sendiri yang bakal meruntuhkan menara kacanya dengan tangannya sendiri."

Sena mematikan lampu ruangannya, melangkah keluar menembus kegelapan koridor gedung pencakar langit tersebut. Badai besar telah disiapkan, dan besok malam, Jakarta akan menyaksikan kehancuran dari sebuah keserakahan korporasi terbesar tahun ini.

Bagikan berita ini WhatsAppFacebookX (Twitter)

Belanja di KOJULIO

Lihat semua

Berita terkait