The Planer
bagian 5
fudin7 Nov 2026, 11.47 WIB 28 kali dibaca

Bab 5: Konfrontasi di Atas Meja Retak
Setiap derit anak tangga kayu yang dipijak Mentari terdengar seperti detak lonceng kematian bagi keharmonisan Horizon. Ketika kepalanya muncul di ambang lantai dua, hal pertama yang ia lihat adalah Sena yang sedang menyodorkan sebuah pulpen berlogo mewah ke tangan Bumi.
Bumi duduk termangu, ujung pulpen itu sudah berada beberapa milimeter di atas garis tanda tangan kontrak PT. Sinar Makmur Sejahtera.
"Tanda tangan di sini, Bum. Dan semua masalah finansial kita selesai hari ini," desak Sena, suaranya terdengar begitu manis, penuh dengan penekanan yang meyakinkan.
"Taruh pulpennya, Bumi."
Suara Mentari memotong udara pengap ruko dengan ketajaman sebilah pisau. Bumi dan Sena otomatis menoleh. Sena mengernyitkan dahi, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan ketegangan yang mendadak melingkupi ruangan.
"Lu dari mana aja sih, Tar? Udah ditungguin dari tadi," kata Sena sembari melambaikan tangan, memberi isyarat agar Mentari mendekat. "Sini, liat rincian termin pembayarannya. Seratus juta, gak pakai dicicil. Ini berkah buat kita."
Mentari tidak melangkah menuju meja anggaran. Ia berjalan lurus ke arah Sena, matanya menghunus tepat ke bola mata laki-laki itu. Tangannya masuk ke dalam saku jaket, menggenggam ponsel milik Rara yang sengaja ia bawa ke atas.
"Berkah buat kita, atau komisi buat lu, Sena?" tanya Mentari, suaranya bergetar menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
Bumi meletakkan pulpennya kembali ke atas meja, dahinya berkerut dalam. "Tar, maksud lu apa? Kita lagi bahas masalah serius."
"Gue bener-bener lagi bahas masalah serius, Bumi!" Mentari beralih menatap Bumi, matanya berkaca-kaca namun tatapannya kokoh. "Sahabat yang lu belain habis-habisan ini, orang yang lu sebut sebagai mesin penggerak Horizon... dia orang yang udah ngejual kita ke Megastage."
Sena tertegun. Detik itu juga, senyum pragmatis di wajahnya lenyap, digantikan oleh ketegangan yang membuat rahangnya mengeras. Namun, sebagai seorang hustler yang terlatih, ia segera memasang topeng defensifnya.
"Tar, lu kalau bicara pakai otak, ya. Jangan sembarangan nuduh tanpa bukti," bentak Sena, suaranya meninggi satu oktav. "Gue seminggu ini kurang tidur demi nyari dana buat EO ini! Kalau bukan karena gue, ruko ini udah disegel!"
"Oh, lu mau bukti?" Mentari menarik ponsel Rara dari sakunya dan membantingnya ke atas meja kayu yang retak, tepat di atas lembaran kontrak rokok herbal. Layar ponsel itu menampilkan baris kode enkripsi jaringan Wi-Fi ruko beserta identitas gawai milik Sena.
"Rara nemuin ini semalam. Tiga hari lalu, seluruh proposal rahasia kita, daftar band incaran, sampai rincian anggaran Horizon dikirim langsung ke server internal Megastage dari laptop lu, Sena. Tepat di malam lu pamit mau ketemuan sama orang agensi. Lu gak ketemuan sama agensi, kan? Lu pulang ke rumah bokap lu, Surya Wijaya!"
Bumi terpaku. Kalimat Mentari bagai hantaman gada godam yang meremukkan dadanya. Ia menatap layar ponsel itu, lalu perlahan bangkit dari kursinya. Matanya beralih menatap Sena, mencari bantahan, mencari kepalsuan dari tuduhan Mentari. Namun, keheningan Sena yang mendadak mencekam sudah cukup menjadi jawaban.
"Sen..." suara Bumi terdengar parau, nyaris tak keluar dari tenggorokannya. "Bilang ke gue kalau ini bohong. Bilang kalau laptop lu diretas orang lain."
Sena menatap Bumi. Untuk beberapa saat, ada kilat penyesalan di matanya. Ia mundur satu langkah, bersandar pada pilar ruko, lalu mengembuskan napas panjang seolah-olah beban berat yang ia sembunyikan akhirnya runtuh juga. Ketakutan di wajahnya perlahan menguap, digantikan oleh senyum sinis yang belum pernah dilihat oleh Bumi maupun Mentari sebelumnya.
"Oke. Emang gue yang ngirim," aku Sena datar, tanpa ada nada bersalah sedikit pun.
Mentari menutup mulutnya dengan tangan, air matanya akhirnya luruh. Sementara Bumi merasa dunianya runtuh seketika. Sahabat tempatnya berbagi mimpi di bawah rintik hujan kampus, kini berdiri di depannya sebagai seorang pengkhianat.
"Kenapa, Sen? Kenapa lu tega lakuin ini sama kita?" Bumi melangkah maju, mencengkeram kerah kemeja flanel Sena dengan kedua tangannya. Matanya memerah, dipenuhi badai emosi. "Kita bangun Horizon dari nol! Kita patungan uang jajan! Kenapa lu hancurin mimpi kita?!"
Sena tidak melawan. Ia membiarkan Bumi mencengkeram kerah bajunya, namun matanya menatap Bumi dengan tatapan dingin, penuh penghinaan.
"Mimpi? Mimpi yang mana, Bumi?!" Sena menyentak tangan Bumi hingga cengkeramannya terlepas. "Gue ngelakuin ini buat nyelamatinn lu pada dari kebodohan kalian sendiri! Lu pikir bokap gue, Surya Wijaya, bakal ngebiarin ada EO kecil yang mau ngerusak pasarnya di Jakarta? Enggak, Bumi! Megastage itu bakal ngegilas kalian sampai lumat kalau kalian tetep nekat jalanin festival idealis sampah ini!"
Sena merapikan kerah bajunya yang kusut, lalu menunjuk wajah Bumi dengan jarinya. "Bokap gue tahu pergerakan kalian sejak hari pertama kita sewa ruko ini. Dia ngasih gue pilihan: bawa data kalian dan balik ke Megastage untuk kerja di sana sebagai Direktur Pemasaran, atau dia bakal bikin kalian semua masuk penjara karena utang dan pelanggaran izin hukum. Kontrak seratus juta dari perusahaan rokok ini? Itu juga umpan dari bokap gue buat nguji seberapa murah idealisme lu, Bumi! Dan lu... lu hampir aja tanda tangan!"
Bumi mundur selangkah, napasnya memburu. Rasa dikhianati dan dipermainkan bercampur menjadi satu raungan kemarahan di dalam dadasnya.
"Keluar lu dari sini," bisik Bumi, suaranya bergetar hebat.
"Bum—"
"GUE BILANG KELUAR, BAJINGAN?!" Bumi berteriak histeris, menendang kursi plastik di dekatnya hingga hancur berkeping-keping menghantam dinding.
Sena menatap Bumi dan Mentari untuk terakhir kalinya. Ia mengambil tas ranselnya di atas sofa, lalu berjalan menuju tangga. Di ambang anak tangga, ia berhenti tanpa menengok ke belakang.
"Gua balik ke Megastage. Minggu depan, bokap gue bakal ngumumin festival terbesar tahun ini di Senayan secara resmi," kata Sena, suaranya terdengar dingin dan asing. "Saran gue sebagai mantan sahabat... bubarin Horizon sekarang. Karena kalau kalian tetep nekat pameran di Jakarta, gue sendiri yang bakal turun tangan buat mastiin panggung kalian gak akan pernah menyala."
Langkah kaki Sena yang menuruni tangga terdengar tegas, meninggalkan ruko Horizon dalam kehancuran total. Di lantai atas, Mentari terduduk di lantai sambil menangis sesenggukan, sementara Bumi berdiri menatap papan tulis kosong dengan tangan mengepal hingga darah hampir menetes dari sela-sela kuku jarinya.
Horizon Event tidak hanya kehilangan band utama mereka; mereka baru saja kehilangan separuh dari jiwa mereka sendiri.







