The Planer
bagian 4
fudin7 Nov 2026, 11.46 WIB 28 kali dibaca

Bab 4: Retorika dan Rokok Herbal
Sinar matahari hari Minggu menembus kaca jendela ruko yang kotor, membawa serta hawa panas Jakarta yang langsung mengusir sisa dingin malam. Di atas meja kayu, map plastik dari PT. Sinar Makmur Sejahtera masih tergeletak di tempat yang sama, seolah-olah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Sena berdiri di dekat jendela, menyalakan sebatang rokok kretek. Asapnya bergulung-gulung ditiup angin seadanya dari kipas angin kecil yang berputar menggeleng ke kiri dan ke kanan di atas meja. Mata elangnya terus mengawasi Bumi yang baru saja tiba dengan wajah sekusam pakaiannya.
"Gue gak punya banyak waktu, Bum," kata Sena, memecah keheningan sembari mengetuk abu rokoknya ke dalam kaleng bekas soda. "Orang agensi dari SMS—Sinar Makmur Sejahtera—udah nelpon gue dua kali sejak jam tujuh pagi tadi. Mereka butuh kepastian hari ini. Kalau kita tanda tangan, jam dua siang nanti duit seratus juta itu masuk ke rekening Horizon."
Bumi tidak langsung menjawab. Ia duduk di kursinya, menatap papan tulis yang kini bersih dari nama The Midnight Echo. Bayangan wajah frustrasi Baskara di kedai kopi semalam masih membekas jelas di kepalanya. Megastage itu terlalu gede, Bum. Mereka punya segalanya buat ngebeli atau ngehancurin orang-orang kayak kita. Kata-kata itu terus bergaung, meruntuhkan sisa-sisa keberanian Bumi.
"Seratus juta," Bumi berbisik hambar. "Dan kita harus nampilin logo mereka sebesar gajah di samping panggung kita. Festival yang harusnya menyuarakan lingkungan, bakal dipenuhi SPG rokok yang nawarin produk ke anak-anak muda."
"Ini rokok herbal, Bumi! Bahan bakunya organik, dari cengkeh dan rempah pilihan petani lokal," Sena melangkah mendekat, suaranya dipenuhi retorika persuasif yang biasa ia pakai untuk meyakinkan klien kakap. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja Bumi. "Lu bisa bungkus ini di media sosial sebagai 'dukungan terhadap komoditas lokal dan kedaulatan petani'. Anak-anak indie bakal nelan narasi itu bulat-bulat, Bum. Gak ada yang bakal protes."
Bumi mendongak, menatap Sena. Ada kilat asing di mata sahabatnya itu—kilat yang terasa terlalu dingin, terlalu lihai. "Sejak kapan lu pinter nyari pembenaran kayak gini, Sen?"
Sena tertegun sedetik, namun dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia terkekeh pelan. "Sejak gue sadar kalau perut yang lapar gak bisa dikasih makan pakai idealisme, Bum. Kita butuh duit ini buat bertahan hidup. Mentari butuh ini. Lu juga butuh ini biar gak usah pulang ke Bekasi dengan kepala tertunduk."
Di saat yang sama, di lantai bawah ruko, pintu depan berderit terbuka. Mentari melangkah masuk dengan kantung belanjaan berisi beberapa bungkus roti sobek dan air mineral botolan untuk sarapan mereka. Namun, sebelum ia sempat menapakkan kaki di anak tangga pertama, sebuah tangan kecil menarik ujung jaketnya dengan kuat.
Mentari menoleh dan terkejut melihat Rara berdiri di balik bayangan tangga. Wajah Rara pucat pasi, matanya sembap seperti orang yang habis menangis semalaman tanpa henti.
"Rara? Lu kenapa? Sakit?" Mentari langsung meraba dahi Rara, mengira gadis magang itu terserang demam akibat terlalu sering lembur di ruko yang pengap.
Rara menggeleng cepat. Bibirnya bergetar hebat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menarik Mentari ke sudut bawah tangga yang gelap, lalu menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan tangkapan layar kode pelacakan dari laptopnya semalam.
"Kak... Kak Tar... tolong lihat ini," bisik Rara, suaranya hampir hilang tertelan deru mesin kendaraan dari luar.
Mentari mengernyitkan dahi, mencoba membaca barisan kode teknis yang ditampilkan Rara. "Ra, lu tahu kan gue anak akuntansi? Gue gak paham bahasa pemrograman kayak gini. Ini apaan?"
"Ini log Wi-Fi ruko kita, Kak," Rara menyeka air mata yang kembali meleleh di pipinya. "Tiga hari lalu, sebelum Megastage ngerebut The Midnight Echo, semua data proposal rahasia kita dikirim ke server Megastage. Dan... dan ini MAC Address perangkat yang ngirim."
Rara menggeser layar ponselnya, menampilkan baris teks berwarna hijau yang telah ia terjemahkan ke dalam nama pengguna: DEVICE ID: SNA-WIJAYA_LAPTOP.
Mentari merasa seluruh pasokan udara di paru-parunya lenyap seketika. Jantungnya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. Ia menatap nama itu, lalu menatap Rara, berharap gadis itu sedang melakukan lelucon yang buruk.
"Sena...?" Mentari berbisik, suaranya bergetar. "Gak mungkin, Ra. Sena itu yang paling semangat waktu kita bangun Horizon dari nol. Dia yang rela berantem sama orang agensi demi belain kita. Gak mungkin dia berkhianat."
"Aku udah cek tiga kali, Kak," Rara terisak, menahan tangisnya agar tidak terdengar sampai ke lantai atas. "Laptop itu cuma punya Kak Sena. Dan jam pengiriman file itu tepat di malam waktu Kak Sena bilang dia lagi ketemuan sama orang agensi di luar. Dia bohong, Kak. Dia yang bocorin semua rencana kita ke Megastage."
Mentari menyandarkan punggungnya ke dinding tembok ruko yang dingin. Tangannya yang memegang kantung belanjaan melemas hingga botol-botol air mineral di dalamnya saling berbenturan. Pikirannya langsung melayang pada sikap Sena yang belakangan ini mendadak sangat mendesak mereka untuk mengambil uang dari perusahaan rokok, serta ketenangannya yang janggal saat The Midnight Echo dibajak.
Semuanya tiba-tiba masuk akal. Sena bukan sedang mencoba menyelamatkan Horizon; Sena sedang menuntun mereka masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan oleh Megastage.
Dari lantai atas, suara langkah kaki Sena terdengar mendekati tangga, disusul teriakannya yang menggema. "Mentari! Lu udah dateng belum? Sini naik, kita butuh kalkulator lu buat mastiin rincian kontrak rokok ini sebelum Bumi tanda tangan!"
Mentari mendongak menatap langit-langit tangga. Rasa kecewa yang teramat sangat perlahan berubah menjadi kemarahan yang dingin di dalam dadanya. Ia menatap Rara, lalu menghapus air mata di pipi gadis kecil itu dengan jemarinya.
"Rara, lu tetep di sini. Jangan naik dulu," kata Mentari, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang—jenis ketenangan yang biasa ia tunjukkan sebelum memutus hubungan dengan vendor yang curang. "Biar gue yang urus bajingan di atas."
Mentari merapikan jilbabnya, menggenggam kalkulator abu-abu di kantong jaketnya, lalu melangkah menaiki anak tangga satu per satu dengan tatapan mata yang siap menghancurkan apa saja di depannya.







