The Planer
bagian 2
fudin7 Nov 2026, 11.44 WIB 28 kali dibaca

Bab 2: Struktur yang Retak
Spidol hitam yang jatuh dari tangan Bumi menggelinding lambat di atas lantai kayu yang berdebu, lalu berhenti tepat di depan ujung sepatu bot usang milik Sena. Tidak ada yang bergerak selama hampir satu menit penuh. Bunyi erangan AC ruangan terasa semakin nyaring dalam keheningan yang mencekik itu.
"Megastage..." Bumi bergumam, suaranya terdengar kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa melalui tenggorokan. Ia menatap layar laptop Rara tanpa berkedip. "Bagaimana bisa? Baskara baru minggu lalu bilang ke gue kalau dia gak akan pernah mau main di panggung yang disponsori bank korporat. Dia bilang festival Megastage itu cuma etalase orang-orang kaya yang mau kelihatan keren."
Sena berdehem pelan, mengalihkan pandangannya dari papan tulis ke arah jendela ruko yang buram karena jelaga knalpot. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya yang robek di bagian lutut.
"Ini bisnis, Bum. Gak ada yang personal," kata Sena, nadanya mendadak berubah menjadi sangat datar, terlalu pragmatis untuk ukuran seorang sahabat yang biasanya ikut menggebu-gebu. "Megastage punya duit. Mereka bisa beli idealisme siapa aja di kota ini. Bahkan seorang Baskara sekalipun pasti punya harga yang cocok."
Mentari, yang sejak tadi mengamati dinamika di ruangan itu, menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang janggal dalam nada suara Sena. Biasanya, jika Horizon kehilangan band incaran karena disalip oleh EO raksasa, Sena akan menjadi orang pertama yang menggebrak meja dan memaki-maki dengan sumpah serapah terlengkap yang ia tahu. Tapi hari ini, Sena terlalu tenang. Terlaju defensif, seolah-olah ia sudah memprediksi kekalahan ini sejak melangkah masuk ke dalam ruko.
"Sen," panggil Mentari, suaranya rendah dan penuh selidik. Ia melipat kedua tangannya di dada. "Lu kelihatan gak kaget sama sekali."
Sena menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Gue realistis, Tar. Gue kan udah bilang, seminggu ini gue muter-muter Sudirman. Gue denger desas-desus di kalangan orang-orang agensi kalau Megastage emang lagi nyari band indie besar buat ngebersihin nama mereka setelah skandal monopoli kemarin. Jadi, wajar aja kalau mereka gerak cepet."
"Tapi proposal kita ke manajer The Midnight Echo baru dikirim tiga hari lalu, Sena," sela Rara. Suara kecilnya membuat perhatian kembali terpusat ke sudut ruangan. Jemari Rara masih bertumpu pada keyboard, matanya menatap barisan log email di layarnya. "Dan jalur negosiasi kita itu sifatnya rahasia. Manajer mereka bahkan setuju buat ketemuan sama Kak Bumi malam minggu besok di warung kopi belakang TIM. Gimana bisa Megastage langsung ngunci kontrak eksklusif secepat ini kalau gak ada orang dalam yang ngebocorin pergerakan kita?"
Sena mendengus, tawa hambar keluar dari mulutnya. "Ra, lu pinter soal komputer, tapi lu naif soal industri. Megastage itu punya intel di mana-mana. Orang-orang mereka ada di setiap kedai kopi tempat anak indie nongkrong. Kita gak perlu mata-mata buat ketahuan kalau pergerakan kita se-amatir ini."
"Udah, cukup."
Bumi memotong perdebatan itu. Ia berjalan menuju papan tulis putih, mengambil penghapus kain yang sudah kotor, lalu dengan satu gerakan kasar menghapus nama The Midnight Echo dari lingkaran merah yang ia buat tadi pagi. Serbuk spidol hitam berjatuhan seperti abu pembakaran di atas lantai.
"Kita gak usah ngeributin band yang udah milih jadi budak korporasi," kata Bumi, punggungnya menegang. Ketika ia berbalik, matanya tidak lagi memancarkan kesedihan, melainkan sebuah keras kepala yang berbahaya. "Horizon Underground Fest bakal tetap jalan. Tanpa The Midnight Echo."
Mentari langsung berdiri, kursi plastiknya terdorong ke belakang hingga menimbulkan bunyi derit yang ngilu. "Bumi, pakai otak lu! Kita gak punya headliner! Tiket kita baru terjual lima puluh lembar dari target seribu! Kalau kita nekat jalan tanpa band besar yang menarik massa, festival ini bakal jadi kuburan massal buat uang kita yang gak seberapa ini!"
"Kita masih punya opsi lain, Tar," Bumi bersikeras, nadanya meninggi. "Kita bawa band-band kolektif dari Bandung, dari Jogja. Mereka yang main di gudang-gudang tua, mereka yang bener-bener hidup dari komunitas!"
"Dan siapa yang mau bayar tiket seharga seratus lima puluh ribu buat lihat band yang lagunya bahkan gak ada di Spotify, Bumi?!" Mentari akhirnya berteriak, seluruh beban finansial yang ia pikul sendiri selama dua bulan ini meledak. Air matanya mulai menggenang di sudut mata, membuat pandangannya kabur. "Lu gak pernah mikirin perasaan gue ya? Gue yang tiap hari ditelpon sama Pak Toto pemilik ruko karena uang sewa kita nunggak dua minggu! Gue yang harus muter otak gimana caranya biar kita gak kelaparan minggu depan! Gue capek, Bum! Gue capek pura-pura jadi orang kaya yang punya mimpi gede, padahal buat beli token listrik aja kita harus patungan recehan?!"
Ruangan kembali sunyi. Napas Mentari memburu, kepalanya tertunduk menatap meja kayu yang retak. Bumi tertegun, tangannya yang memegang penghapus papan tulis perlahan turun. Ia tidak tahu kalau beban yang dipikul Mentari sudah seberat ini. Rasa bersalah mendadak menusuk ulu hatinya.
Sena melihat celah itu. Ia melangkah maju, kembali mengambil map plastik berisi proposal dari PT. Sinar Makmur Sejahtera dan menyodorkannya tepat di depan dada Bumi.
"Ini solusinya, Bum," kata Sena, suaranya melembut, mencoba terdengar seperti seorang penyelamat. "Seratus juta. Kita ambil duit ini, kita bayar sewa ruko Mentari sampai akhir tahun, kita lunasin utang vendor, dan sisa duitnya bisa kita pakai buat sewa band indie lain yang lebih murah tapi punya massa. Kita cuma perlu masang logo rokok mereka di samping panggung. Itu aja. Cuma logo, Bumi. Gak akan ngerusak musik lu."
Bumi menatap map plastik itu, lalu beralih menatap Mentari yang sedang menghapus air matanya menggunakan ujung jilbabnya, dan terakhir menatap Rara yang memeluk laptopnya dengan ketakutan. Struktur kepercayaan di dalam Horizon sedang diuji sampai ke titik paling kritis. Dinding idealisme yang dibangun Bumi perlahan-lahan mulai retak oleh hantaman kebutuhan perut yang tak bisa ditunda.
"Gue... gue butuh waktu buat mikir," bisik Bumi pelan. Ia menyambar jaket denimnya yang tergantung di paku dinding, lalu berjalan cepat keluar ruangan tanpa menatap siapa pun. Langkah kakinya yang menuruni tangga terdengar berat, seperti langkah seorang prajurit yang dipaksa mundur dari medan perang.
Sena menatap kepergian Bumi dengan senyum tipis yang tersembunyi di balik kegelapan ruangan. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku, mengetik sebuah pesan singkat kepada sebuah nomor tanpa nama yang tersimpan di kontaknya:
Umpan pertama sudah dimakan. Dia mulai goyah.
Sementara di pojok ruangan, dalam keremangan cahaya monitor, mata Rara yang jeli menangkap pantulan layar ponsel Sena di kaca jendela. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa, namun jarinya diam-diam mulai membuka sebuah program baru di laptopnya—sebuah program pelacak enkripsi yang biasa ia gunakan untuk membedah rahasia.







