The Planer

bagian 3

fudin7 Nov 2026, 11.40 WIB 28 kali dibaca

The Planer

Bab 3: Malam di Kedai Kopi Hitam

Jakarta setelah pukul sepuluh malam tidak pernah benar-benar tidur; kota ini hanya mengganti topengnya. Udara pengap berganti dengan angin malam yang membawa aroma aspal basah dan sisa pembakaran bensin.

Bumi duduk di bangku kayu panjang sebuah warung kopi pancung di pinggiran daerah Cikini. Di depannya, segelas kopi hitam yang ampasnya sudah mengendap setengah gelas telah mendingin. Suara bising knalpot motor yang melintas di jalan raya berpadu dengan petikan gitar sumbang pengamen jalanan di kejauhan, menciptakan latar suara yang riuh, namun di kepala Bumi, semuanya terasa sunyi.

Ia menatap layar ponselnya yang retak di sudut kiri atas. Sebuah pesan WhatsApp dari Mentari masuk tiga puluh menit yang lalu, berisi foto kuitansi tagihan listrik ruko yang sudah dicap merah dengan tulisan PERINGATAN PEMUTUSAN. Mentari tidak menambahkan kata-kata apa pun, dan justru keheningan pesan itulah yang membuat dada Bumi terasa kian sesak.

"Bumi?"

Sebuah suara berat memecah lamunan Bumi. Ia mendongak dan menemukan Baskara, vokalis The Midnight Echo, berdiri di samping meja dengan jaket kulit hitam dan masker yang diturunkan ke dagu. Wajahnya tampak lelah, dengan kantung mata yang tidak bisa disembunyikan oleh topi pet yang dipakainya rendah-rendah.

"Bas," Bumi langsung menggeser duduknya, memberi ruang. "Gue pikir lu gak bakal dateng setelah pengumuman sore tadi."

Baskara duduk, lalu mengisyaratkan kepada pemilik warung untuk memesan kopi yang sama. Ia mengembuskan napas panjang, bersandar pada sandaran kayu yang reyot. "Gue berutang penjelasan sama lu, Bum. Gue tahu lu pasti kecewa banget setelah lihat rilis dari Megastage."

Bumi memutar-mutar gelas kopinya, matanya menatap ampas hitam di dasar kaca. "Gue cuma mau denger satu hal, Bas. Lu bilang lu gak bakal pernah mau gabung sama mereka. Kenapa sekarang berubah? Karena duit seratus juta? Dua ratus juta?"

Baskara terkekeh, namun tawanya terdengar pahit. "Andai ini cuma soal duit, Bum. Band gue bisa idup dari jualan merchandise dan main di gig kolektif kecil kayak punya lu. Tapi Megastage... mereka gak cuma nawarin duit. Mereka megang leher kita."

Bumi mengernyitkan dahi, menatap Baskara lurus-lurus. "Maksud lu?"

"Dua hari lalu, manajer gue dapet surat dari firma hukum raksasa di Jakarta. Mereka bilang, lagu hit kita yang baru dirilis itu dianggap melanggar hak cipta karena punya kemiripan progresi kord dengan salah satu lagu lama milik artis internasional yang lisensinya dipegang sama anak perusahaan Megastage," Baskara memijat pelipisnya, suaranya merendah, nyaris berbisik. "Tuntutannya miliaran, Bum. Kita bisa mati sebelum berkembang. Tapi, beberapa jam setelah surat itu dateng, orang dari Megastage nelpon. Mereka bilang, semua tuntutan hukum itu bisa 'hilang' dalam semalam, asal kita mau tanda tangan kontrak eksklusif jadi headliner di festival mereka selama tiga tahun ke depan."

Jantung Bumi berdegup kencang. Tangannya mengepal di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Itu jebakan, Bas! Mereka sengaja nyari-nyari kesalahan lu buat ngehancurin jalur independen lu!"

"Gue tahu, Bumi! Gue tahu!" Baskara memotong dengan nada tertahan, matanya memancarkan keputusasaan yang nyata. "Tapi gue punya tiga personel lain yang punya keluarga buat dinafkahin. Gue gak bisa egois demi idealisme gue sendiri sementara masa depan anak-anak band gue dipertaruhin di pengadilan. Megastage itu terlalu gede, Bum. Mereka punya segalanya buat ngebeli atau ngehancurin orang-orang kayak kita."

Baskara bangkit berdiri sebelum kopi pesanannya bahkan sempat diminum. Ia menepuk pundak Bumi dengan berat. "Saran gue, mending lu hati-hati, Bum. Kalau mereka udah mulai ngelirik festival kecil lu, artinya mereka udah mencium bau ancaman. Jangan sampai Horizon nasibnya sama kayak band gue."

Baskara memakai kembali maskernya, melangkah pergi menembus kegelapan malam Jakarta, meninggalkan Bumi yang terpaku sendirian di bawah temaram lampu warung kopi yang berkedip-kedip.

Sementara itu, di ruko Horizon yang sepi, Mentari sudah pulang ke kosannya sejak pukul sembilan karena kelelahan. Hanya tersisa Rara yang masih duduk di sofa busa, dikelilingi oleh kegelapan ruangan. Satu-satunya sumber cahaya di lantai dua itu adalah pendaran biru dari layar laptopnya.

Jemari Rara yang lincah menari di atas keyboard, mengeksekusi baris-baris perintah pada terminal Linux miliknya. Sejak melihat gerak-gerik mencurigakan Sena sore tadi, Rara memutuskan untuk memeriksa log aktivitas router Wi-Fi ruko.

Sebagai seorang mahasiswa teknik informatika yang sering menghabiskan waktu di forum-forum peretas bawah tanah, membedah jaringan lokal adalah hal mudah bagi Rara. Matanya yang terlindung di balik kacamata tebal mendadak berhenti pada sebuah baris data enkripsi yang ganjil.

"Aneh..." bisik Rara pada kesunyian malam.

Di layarnya, tertera data bahwa tiga hari yang lalu tepat sebelum Megastage mengumumkan kontrak eksklusif dengan The Midnight Echo ada sebuah aktivitas transfer data yang sangat besar keluar dari jaringan ruko mereka. Seseorang telah menyalin file PDF berukuran lima puluh megabyte berjudul PROPOSAL_HORIZON_UNDERGROUND_V2.pdf.

Rara melacak alamat IP tujuan pengiriman tersebut. Alamat IP itu bukan menuju ke alamat agensi atau vendor lokal, melainkan merujuk pada sebuah server privat dengan nama domain: secure-gateway.megastage.co.id.

Napas Rara tercekat. Seseorang di dalam ruko ini telah mengirimkan seluruh cetak biru festival mereka, termasuk daftar band incaran dan rincian anggaran, langsung ke server utama Megastage.

Rara segera beralih memeriksa MAC Address ID unik perangkat yang melakukan transfer data tersebut pada malam itu. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia bisa mendengarnya di dalam rongga dadanya. Ia berharap ID itu merujuk pada perangkat asing yang meretas WiFi mereka dari luar ruko.

Namun, ketika baris kode identitas perangkat itu berhasil diterjemahkan oleh sistemnya, layar laptop Rara menampilkan sebuah nama pemilik gawai yang sudah sangat ia kenal:

DEVICE ID: SNA-WIJAYA_LAPTOP

Rara membeku di tempat duduknya. Air matanya mendadak mengalir tanpa bisa ditahan, menetes di atas permukaan laptopnya yang dingin. Sena. Sahabat yang selama ini selalu membelikan mereka makanan saat lembur, orang yang selalu tertawa paling keras saat menyemangati Bumi, ternyata adalah orang yang menusuk Horizon dari belakang.

Bagikan berita ini WhatsAppFacebookX (Twitter)

Belanja di KOJULIO

Lihat semua

Berita terkait