The Planer

bagian 1

fudin7 Nov 2026, 11.35 WIB 72 kali dibaca

The Planer

Bab 1: Menghirup Debu Jakarta

Pukul delapan pagi di sudut Jakarta Selatan, dan ruko berlantai dua di ujung gang buntu itu sudah kehilangan haknya untuk disebut sebagai tempat yang tenang.

Di lantai atas, sebuah ruangan berukuran empat kali enam meter dipaksa menampung ambisi yang terlalu besar untuk ukuran dompet penghuninya. Plang papan kayu tiruan yang tergantung miring di depan pintu bertuliskan Horizon Event, dengan cat hitam yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya akibat sengatan matahari Jakarta. Di dalam, bau sisa bungkus mi instan semalam beradu sengit dengan aroma pekat kopi hitam curah jenis termurah yang bisa dibeli Mentari di pasar tradisional dekat ruko.

"Bumi, demi sisa waras yang gue punya, taruh spidol itu sekarang atau gue lempar kalkulator ini ke muka lu."

Mentari tidak mengangkat wajah dari layar laptopnya yang sudah dipenuhi stiker kusam. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan ritme yang terdengar seperti ketukan mesin jahit tua—cepat, konstan, dan penuh tekanan. Kacamata berbingkai bulat miliknya melorot sampai ke ujung hidung, ditahan oleh keringat tipis akibat AC ruangan merek lokal yang sejak subuh tadi hanya mengerang, mengeluarkan angin hangat tanpa rasa dingin sedikit pun.

Bumi, yang berdiri di depan papan tulis putih besar, mengabaikan peringatan itu. Dengan satu sentakan tangan yang dramatis, ia menarik garis lingkaran merah tebal menggunakan spidol yang hampir kering di sekitar sebuah nama: The Midnight Echo.

"Ini bukan cuma soal bikin konser, Tar. Ini soal sejarah," kata Bumi. Suaranya parau khas orang kurang tidur, namun memiliki daya pikat alami—jenis suara milik para pemimpi yang hidup dari menjual harapan. Ia berbalik, menatap Mentari dengan mata yang merah, namun berbinar terang. "Baskara baru aja rilis singel baru secara independen. Tanpa label besar, tanpa modal korporasi. Kalau kita bisa bawa mereka jadi headliner di festival pertama kita, Horizon gak cuma bakal dikenal sebagai EO semenjana. Kita bakal jadi simbol perlawanan anak muda."

"Perlawanan gak bisa dipakai buat bayar token listrik, Bumi," potong Mentari datar.

Kali ini ia menutup laptopnya dengan dentuman pelan, lalu memutar posisi duduknya agar menghadap Bumi sepenuhnya. Di tangannya, ia memegang sebuah kalkulator fisik berwarna abu-abu tua yang layarnya sudah sedikit menghitam di bagian sudut.

"Coba lu dengerin angka-angka ini, ya, wahai Bapak CEO," Mentari mengetuk layar kalkulatornya dengan ujung pulpen. "Sewa venue di lapangan terbuka daerah Blok M: dua puluh lima juta. Itu baru DP lima puluh persen. Izin keramaian ke polisi, sewa tenda vendor, sampai bayar uang rokok buat ormas setempat: sepuluh juta. Sisa uang di rekening bersama kita? Dua puluh satu juta, empat ratus lima puluh ribu rupiah. Dan lu dengan gampangnya mau masukin The Midnight Echo yang tarif manggungnya minimal empat puluh juta? Lu mau kita bayar mereka pakai apa? Daun singkong?"

Bumi mengacak rambutnya yang ikal dan sudah berantakan sejak dua hari lalu. Ia berjalan mendekati meja Mentari, lalu bertumpu dengan kedua tangannya di atas meja kayu yang permukaannya sudah melar akibat sering ketumpahan air. Ia menatap sahabatnya sejak ospek kuliah itu dengan tatapan memelas—senjata andalan yang biasa ia gunakan kalau proposal mereka ditolak donatur.

"Tar, lu inget gak waktu kita semester lima? Kita bikin acara musik di parkiran kampus, hujan deras, penonton cuma tiga puluh orang, dan kita tekor lima juta." Bumi tersenyum tipis, matanya menerawang mengingat masa-masa di mana masalah terbesar mereka hanyalah nilai IPK. "Tapi waktu itu lu yang bilang ke gue sambil nangis, 'Bumi, suatu saat kita bakal bikin panggung di mana orang-orang datang bukan karena gengsi, tapi karena mereka butuh musiknya.' Lu yang bilang begitu, Tar."

Mentari tertegun sejenak. Kalimat Bumi telak menghantam dadanya. Sorot mata gadis itu melunak, mengenang idealisme masa kuliah yang begitu indah sebelum realita kedewasaan menampar mereka tanpa ampun. Namun, hanya untuk sedetik. Ia segera menarik napas panjang dan kembali memasang dinding pertahanannya sebagai benteng realita di Horizon.

"Itu waktu kita masih disubsidi uang jajan orang tua, Bumi. Sekarang kita udah lulus. Kita harus bayar kosan sendiri," suara Mentari melembut, namun nadanya mengeras di akhir. "Gue gak mau sebulan lagi kita diusir dari ruko ini dan lu harus pulang ke rumah om lu di Bekasi sambil bawa kardus-kardus kabel ini dengan status gagal."

Sebelum Bumi sempat membalas, pintu kayu ruko di lantai bawah terbuka dengan bantingan keras, disusul suara langkah kaki yang terburu-buru menaiki anak tangga kayu yang berderit protes menahan beban.

Sena masuk dengan napas memburu. Kemeja flanel merahnya basah oleh keringat di bagian punggung, dan aroma rokok kretek jalanan langsung memenuhi ruangan yang pengap. Di belakangnya, Rara mengekor dengan langkah super pelan, kepalanya tertunduk dalam-dalam sambil memeluk sebuah laptop tua yang dipenuhi stiker band punk lokal.

"Gue bawa sesuatu," kata Sena, terengah-engah, melempar helmnya ke atas sofa busa yang per-nya sudah mencuat keluar. Ia langsung melempar sebuah map plastik tebal ke atas meja Mentari, tepat di atas kalkulator abu-abu tadi. "Dan gue gak tahu ini berkah atau kutukan buat kita."

Mentari mengernyitkan dahi, dengan cepat menyambar map tersebut. Matanya perlahan membelalak saat membaca angka nominal yang tertera di halaman pertama proposal kerja sama tersebut.

"Seratus... seratus juta?" Mentari berbisik, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Ia menatap Sena, memastikan dirinya tidak salah lihat angka nol. "Ini beneran? Duit cash?"

Bumi yang penasaran langsung merebut map tersebut dari tangan Mentari. Matanya menyusuri baris demi baris kalimat hukum di dalamnya, mencari logo perusahaan mana yang cukup gila untuk menggelontorkan dana sebesar itu untuk EO sekecil mereka yang bahkan belum berbadan hukum resmi.

Ketika matanya mendarat di pojok kanan bawah halaman, senyum di wajah Bumi langsung lenyap, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya.

"PT. Sinar Makmur Sejahtera," baca Bumi dengan suara yang mendadak dingin. Ia menatap Sena dengan tatapan menuntut penjelasan. "Sen, ini perusahaan yang bulan lalu dapet kecaman dari seluruh aktivis mahasiswa karena proyek reklamasi pantai utara yang bikin banjir rob, kan? Dan mereka mau kita jadi promotor untuk peluncuran produk rokok herbal baru mereka di festival kita?"

Sena menghela napas panjang. Ia menarik kursi plastik di dekatnya, lalu duduk dengan posisi bersandar penuh, menatap langit-langit ruko yang mulai berjamur karena bocor.

"Gue udah muter-muter Sudirman sampai Senopati, Bumi. Gak ada perusahaan waras yang mau ngasih duit seratus juta ke EO yang portofolionya cuma bikin pensi SMA dan acara internal kampus. Cuma mereka yang mau. Mereka lagi butuh imej 'muda, segar, dan peduli lingkungan' buat produk rokok herbal baru mereka, dan mereka lihat konsep festival kita cocok."

"Konsep festival kita itu Eco-Echo, Sena!" Bumi menggebrak meja, membuat cangkir kopi Mentari sedikit bergoyang dan airnya tumpah ke lantai. "Kita mengampanyekan kemandirian dan kelestarian alam lewat musik bawah tanah! Bagaimana bisa kita teriak-teriak soal jaga bumi di atas panggung yang dibayari oleh korporasi yang ngerusak laut kita sendiri? Itu namanya melacurkan idealisme! Kita bakal dianggap munafik sama komunitas!"

"Tapi idealisme lu itu gak bisa dimakan, Bumi!" Sena berdiri, membalas tatapan Bumi dengan emosi yang sama tingginya. Buku-buku jarinya memutih menahan amarah. "Lu tahu gak berapa kali gue ditolak minggu ini? Gue dihina sama manajer-manajer perlente di gedung tinggi karena proposal kita dianggap sampah tak bernilai! Sekarang ada yang mau ngasih duit, dan lu mau buang gitu aja cuma karena ego lu yang ketinggian?!"

Di sudut ruangan, di atas sofa busa yang rusak, Rara menyalakan laptopnya dalam diam. Jari-jarinya yang kecil bergerak cepat di atas trackpad, mengabaikan ketegangan tiga orang dewasa di depannya yang siap saling cengkeram. Matanya yang di balik kacamata minus tebal tiba-tiba menangkap sebuah pembaruan di linimasa media sosial yang sedang ia pantau lewat akun bot miliknya.

"Kak... Kak Bumi, Kak Mentari," suara Rara yang kecil dan agak cadel memotong perdebatan. "Kayaknya... kita gak perlu ribut soal The Midnight Echo lagi."

Semua kepala di ruangan itu otomatis menoleh ke arah Rara. Gadis magang itu memutar posisi laptopnya agar menghadap ke tengah ruangan, memperlihatkan sebuah unggahan dari akun resmi bercentang biru dengan pengikut jutaan yang baru saja muncul tiga menit yang lalu.

MEGASTAGE INDONESIA (Official Announcement): Dengan bangga kami mengumumkan bahwa 'The Midnight Echo' resmi menjadi Headliner eksklusif dalam Megastage Fest 2026 bulan depan! Dapatkan tiket presale Anda sekarang sebelum kehabisan!

Bumi membeku di tempatnya berdiri. Tangannya yang masih memegang spidol merah perlahan lemas, hingga spidol itu jatuh dan menggelinding di atas lantai debu. Band yang menjadi pondasi dari seluruh konsep mimpinya, musisi yang ia puja karena dianggap sebagai "suara kejujuran jalanan," baru saja dibeli oleh Megastage—raksasa industri, gurita korporasi hiburan yang paling ia benci di negara ini.

Ruko kecil itu mendadak sunyi, menyisakan suara deru knalpot bocor dari jalan raya di luar yang terdengar seperti sedang menertawakan sisa-sisa mimpi mereka yang baru saja hancur lebur.

Bagikan berita ini WhatsAppFacebookX (Twitter)

Belanja di KOJULIO

Lihat semua

Berita terkait