Puncak Musim Hujan Terlambat akibat El Nino, Waspadai Bencana Hidrometeorologi
Sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Puncaknya nanti pada Desember, Januari, dan Februari
fudin27 Okt 2026, 11.15 WIB 1.081 kali dibaca

JAKARTA, berita kojulio — Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah menjelang akhir tahun 2026 hingga awal tahun 2027. BMKG memprediksi puncak musim hujan di Indonesia akan berlangsung mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.
Faisal menjelaskan bahwa puncak musim hujan kali ini mengalami keterlambatan sekitar 20 hingga 30 hari sebagai dampak dari fenomena El Nino.
"Sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Puncaknya nanti pada Desember, Januari, dan Februari," ujar Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10/2026).
Durasi Lebih Pendek, Curah Hujan Terakumulasi
Meski mengalami keterlambatan, BMKG mencatat bahwa sifat hujan berada pada kategori normal—merujuk pada rata-rata klimatologi 30 tahun terakhir. Namun, akumulasi curah hujan akan terjadi dalam durasi yang lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi inilah yang berpotensi memicu terjadinya berbagai bencana alam seperti:
Banjir dan banjir bandang
Tanah longsor
Angin kencang
"Ini yang perlu kita waspadai karena sifat hujannya normal, artinya jumlah hujan yang turun relatif sama, tetapi durasinya lebih pendek. Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama," tegasnya.
Intensifikasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk Karhutla
Di samping persiapan menghadapi musim hujan, BMKG bersama lintas instansi terus menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dalam skala besar untuk menanggulangi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), khususnya di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Pemerintah menyiagakan armada pesawat untuk memancing pertumbuhan awan hujan di area rawan:
Kalimantan Tengah & Selatan: 9 unit pesawat aktif
Sumatera Selatan: 6 unit pesawat aktif
Potensi pertumbuhan awan diprakirakan meningkat signifikan hingga lima hari ke depan. Harapannya, pekan ini menjadi periode basah yang efektif membantu pemadaman karhutla secara alami.
"Sesuai arahan Bapak Presiden dan Bapak Menko PMK, kami terus berkoordinasi erat dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI," tutup Faisal.
Belanja di KOJULIO
Lihat semuaBerita terkait

Ikhtiar Kebangkitan Partai Persatuan Pembangunan
7 Nov 2026

Sudahkah Anda Terdaftar di BSU 2026 Yang Akan Cair
7 Nov 2026

Ketika Takdir Politik Gibran Diuji dan Peta Suksesi Bergulir
7 Nov 2026

Bayang-Bayang Pembatas di Balik Senyum Kekuasaan, Membaca Relasi Jokowi, Prabowo, dan Gibran
7 Nov 2026



