Profil Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution: Dari Jenderal Termuda dan Orang Kepercayaan LSP, hingga Tersangka Kasus Penyadapan

Perjalanan karier cemerlang tersebut menghadapi ujian berat setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri terkait kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden RI Prabowo Subianto pada awal November 2026.

fudin4 Nov 2026, 06.27 WIB 337 kali dibaca

Profil Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution: Dari Jenderal Termuda dan Orang Kepercayaan LSP, hingga Tersangka Kasus Penyadapan
foto : Ig Ahrie sonta

Jakarta, berita kojulio - Nama Inspektur Jenderal Polisi Dr. H. Ahrie Sonta Nasution, S.H., S.I.K., M.Si., M.H., mendadak menjadi pusat perhatian publik nasional. Di usianya yang tergolong sangat muda untuk ukuran perwira tinggi Polri, rekam jejak kariernya dipenuhi dengan berbagai penugasan strategis di lingkaran kekuasaan tertinggi kepolisian dan negara.

Namun, perjalanan karier cemerlang tersebut menghadapi ujian berat setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri terkait kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden RI Prabowo Subianto pada awal November 2026.

Berikut adalah profil lengkap perjalanan hidup, pendidikan, dan rekam jejak penugasan Irjen Ahrie Sonta Nasution:

Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir di Bandung pada 2 April 1981, Ahrie menempuh pendidikan kepolisian di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada tahun 2002 sebagai perwira pertama berpagkat Inspektur Polisi Dua (Ipda).

Kecintaannya pada dunia hukum dan kepolisian tercermin dari riwayat pendidikannya yang akademis:

Sarjana Hukum (S.H.) dari Universitas Palembang (2003).

Sarjana Ilmu Kepolisian (S.I.K.) dari Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian / STIK PTIK (2009).

Magister Hukum (M.H.) dari Universitas Diponegoro.

Doktor Ilmu Kepolisian dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 2018 dengan disertasi bertajuk reformasi kultur kepolisian.

Mengikuti berbagai pelatihan internasional, termasuk di Akademi Kepolisian Belanda, pelatihan analisis TKP di Münster, Jerman, hingga kursus di Joint Special Operations University dan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS).

Rekam Jejak Karier di Lapangan

Ahrie merintis kariernya dari bawah dengan memegang berbagai posisi operasional dan struktural di kepolisian daerah:

Sumatera Selatan & Jawa Barat: Memulai tugas di Polda Jabar, lalu pindah ke Sumsel. Ia sempat menjabat sebagai Kanit Identifikasi Kendaraan Polres Kota Palembang dan Kasat Lantas Polres Musi Banyuasin (2005–2006). Namanya sempat viral kala itu setelah mencegat truk derek pembawa mobil dinas Gubernur Aceh di lintas Palembang–Jambi.

Sidoarjo & Jawa Timur: Menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Sidoarjo dan memimpin operasional pusat manajemen preventif bentukan M. Iqbal. Pindah ke Samsat Manyar, Surabaya Timur, pada 2012.

Reserse dan Operasi Khusus: Pada 2018, ia ditarik ke Ditresnarkoba Polda Metro Jaya dan sukses membongkar jaringan narkoba lokal serta internasional. Ia juga pernah diterjunkan ke Papua sebagai bagian dari Operasi Khusus Nemangkawi untuk menumpas kelompok separatis.

Penangkapan Djoko Tjandra: Pada Juli 2020, sebagai ketua tim pemantau Biro Ops Bareskrim Polri, ia turut hadir dalam operasi penangkapan buronan kasus korupsi penggelapan dana bank, Djoko Tjandra.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok (2020): Di masa pandemi COVID-19, ia menggagas program #PriokBermasker dan Kampung Tangguh Jaya. Ia juga turun langsung memimpin evakuasi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Tanjung Priok serta menangani sejumlah kasus narkoba pesohor.

Meroket Sebagai Orang Kepercayaan LSP

Nama Ahrie mulai melambung di kancah nasional pada 20 Januari 2021, ketika ia menjadi satu-satunya perwira menengah yang mendampingi calon Kapolri Listyo Sigit Prabowo menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR RI sebagai simbol solidaritas antargenerasi.

Setelah Listyo dilantik sebagai Kapolri, Ahrie diangkat menjadi Sekretaris Pribadi (Sespri) Kapolri pada Februari 2021. Di posisi ini, ia dikenal aktif dan responsif memantau serta menanggapi aduan masyarakat terkait kepolisian secara langsung melalui media sosial X (Twitter), yang sempat mendapat apresiasi khusus dari politisi dan publik.

Karier militernya terus melonjak:

Ajudan Presiden Prabowo: Pada Oktober 2024, ia ditunjuk sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto dari unsur Polri setelah melalui seleksi ketat.

Pati Polri & Kadivkum: Usai bertugas sebagai ajudan, ia dipromosikan ke divisi pembinaan internal sebelum akhirnya meraih pangkat Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi pada 25 September 2026 — mencatatkan namanya sebagai Irjen termuda dan yang pertama dari angkatan Akpol 2002.

Pada 3 Oktober 2026, ia resmi dilantik sebagai Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri yang baru di bawah kepemimpinan Kapolri Suyudi Ario Seto.

Titik Balik: Tersangka Kasus Penyadapan

Hanya berselang satu bulan sejak menjabat sebagai Kadivkum Polri, karier cemerlang Irjen Ahrie Sonta mengalami guncangan besar. Pada 3 Selasa, 3 November 2026, Bareskrim Polri secara resmi mengumumkan penetapannya sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal dan penahanan terkait penyadapan terhadap Presiden RI Prabowo Subianto, bersama sejumlah pejabat tinggi Polri lainnya.

Kasus ini kini tengah diusut secara intensif oleh tim gabungan Mabes Polri, mencoreng lembaran prestasi sang jenderal bintang dua termuda yang sebelumnya dikenal sebagai figur perwira cemerlang dan dekat dengan pimpinan tertinggi negara.

Bagikan berita ini WhatsAppFacebookX (Twitter)

Belanja di KOJULIO

Lihat semua

Berita terkait