Menambal Bantargebang dari Akar Rumput: Ketika Nurani Korporasi Menjawab Jeritan Sampah Jakarta
Jakarta, dengan jutaan ton limbah harian yang terus berpacu menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, kini tak bisa lagi mengandalkan pola lama, kumpul, angkut, dan buang.
fudin3 Nov 2026, 09.00 WIB 423 kali dibaca

Jakarta, berita kojulio — Di sudut RW 06 Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, aroma tanah basah dan desik dedaunan tak lagi berujung pada tumpukan sampah yang membusuk. Di pemukiman ini, selembar narasi baru tentang tata kelola sampah Jakarta sedang dirajut—bukan melalui retorika di atas kertas, melainkan lewat perpaduan keringat warga dan kepedulian dunia usaha.
Jakarta, dengan jutaan ton limbah harian yang terus berpacu menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, kini tak bisa lagi mengandalkan pola lama, kumpul, angkut, dan buang. Melalui Program Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan jeritan kebutuhan warga di tingkat tapak dengan uluran tangan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
Mengubah Paradigma dari Rumah
Upaya ini menjadi jawatan nyata atas Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Kebijakan ini menuntut revolusi mental di tiap dapur rumah tangga: bergeser menjadi pilah, angkut, dan olah.
Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari, menegaskan bahwa benteng pertahanan utama dalam penanganan krisis sampah Jakarta ada pada kesadaran individu.
“Setiap orang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan, dengan memilah sampah sejak dari rumah. Sampah yang masih dapat diolah perlu dipisahkan agar bisa dimanfaatkan kembali, sehingga tidak semuanya berakhir di TPST Bantargebang,” ujar Purwanti.
Namun, mengedukasi warga tanpa memberikan alat tempur yang memadai kerap berakhir menjadi imbauan kosong. Di sinilah KSBB Lingkungan membuka pintu lebar-lebar bagi sektor swasta untuk hadir, tidak sekadar memberi bantuan dana, melainkan menyerahkan sarana produksi dan edukasi yang berdampak langsung.
Sentuhan Nyata CSR di Srengseng Sawah
Di RW 06 Srengseng Sawah, komitmen itu mewujud nyata. PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) hadir sebagai kolaborator yang membawa "amunisi" pengelolaan sampah mandiri. Tidak tanggung-tanggung, dua unit gerobak motor listrik diserahkan untuk mempermudah mobilisasi petugas tanpa menambah emisi karbon di lingkungan setempat.
Bantuan tersebut diperkuat dengan keberadaan tujuh tong komposter berkapasitas 200 liter, satu mesin pengayak kompos berkapasitas 100–150 kilogram per jam, serta ratusan ember dan tempat sampah pilah beragam ukuran. Tak berhenti pada benda mati, benih perubahan juga disemai ke generasi muda melalui pelatihan pemilahan sampah bagi anak-anak dan remaja di lingkungan tersebut.
Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo, mengungkapkan bahwa persoalan lingkungan di ibu kota adalah beban bersama yang tidak bisa dipikul oleh pemerintah sendirian.
“Kami berharap sarana dan prasarana yang diberikan dapat mempermudah sekaligus mempercepat pekerjaan petugas kebersihan di lapangan, serta mendorong warga membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah,” tutur Ignatius.
Asa Baru di Tingkat RW
Bagi warga dan pengurus wilayah, hadirnya bantuan CSR yang dijembatani oleh DLH DKI Jakarta ini seperti mengurai benang kusut yang selama ini menggenjot ruang gerak mereka di lapangan.
Lurah Srengseng Sawah, Sunardi, menilai KSBB Lingkungan berhasil memotong jalur birokrasi yang rumit dan langsung menyentuh titik kebutuhan riil warga.
“Dengan pemilahan yang dilakukan secara konsisten, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diolah dan dimanfaatkan kembali oleh warga, sehingga pengelolaan sampah di tingkat RW menjadi lebih optimal,” ungkap Sunardi penuh optimisme.
Model kolaborasi di Srengseng Sawah kini menjadi semacam blueprint sekaligus panggilan terbuka bagi CSR perusahaan-perusahaan lain di Jakarta. Ketika dunia usaha bersatu padu dengan kesadaran warga di bawah naungan fasilitas pemerintah, selembar masa depan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan bukan lagi sekadar impian di balik bayang-bayang raksasa Bantargebang.
Belanja di KOJULIO
Lihat semuaBerita terkait

Ikhtiar Kebangkitan Partai Persatuan Pembangunan
7 Nov 2026

Sudahkah Anda Terdaftar di BSU 2026 Yang Akan Cair
7 Nov 2026

Ketika Takdir Politik Gibran Diuji dan Peta Suksesi Bergulir
7 Nov 2026

Bayang-Bayang Pembatas di Balik Senyum Kekuasaan, Membaca Relasi Jokowi, Prabowo, dan Gibran
7 Nov 2026



